Sabtu, 01 Oktober 2011

M.K PSIKOLINGUISTIK



BAB  I
PENGERTIAN DASAR PSIKOLINGUISTIK


A.          PENDAHULUAN
Psikolinguistik adalah penggabungan antara dua kata ³psikologi´ dan ³linguistik´. Psikolinguistik adalah studi mengenai penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia ( Levelt, 1975). Dari defenisi ini terlihat ada dua aspek yang berbeda, yaitu pertama perolehan yang menyangkut bagaimana seseorang, terutama anak-anak belajar bahasa dan kedua penggunaan yang artinya penggunaan bahasa oleh orang dewasa normal. Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikolinguistik dan neurobiologis yang memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa. Kajiannya semula lebih banyak bersifat filosofis karena masih sedikitnya pemahaman tentang bagaimana otak manusia berfungsi.Psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan psikologi kognitif.
Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang bisa menghasilkan   kalimat yang mempunyai arti dan benar secara tata bahasa, termasuk juga proses yang membuat bisadipahaminya ungkapan, kata, tulisan, dan sebagainya.
Psikolinguistik bersifat interdisipliner dan dipeajari oleh para ahli dalam berbagai bidangseperti psikologi, ilmu kognitif dan linguistik. Psikolinguistik adalah perilaku barbahasa yang disebabkan oleh interaksinya dengan cara berfikir manusia untuk meneliti tentang perolehan produksi dan pemahaman terhadap bahasa.

Levelt membagi Psikolinguistik ke dalam tiga bidang utama sebagai berikut:
1)      Psikolinguistik Umum
Psikololinguistik umum adalah suatu studi mengenai bagaimana pengamatan atau persepsi orang dewasa tentang bahasa dan bagaimana ia memproduksi bahasa. Selain itu juga mempelajari mengenai proses kognitif yang mendasarinya pada waktu seseorang menggunakan bahasa.

2)      Psikolinguistik perkembangan
Psikolinguistik perkembangan yaitu studi psikologi mengenai perolehan bahasa pada anak-anak dan orang dewasa, baik perolehan bahasa pertama maupun bahasa kedua.

3)      Psikolinguistik terapan
Psikolinguistik terapan adalah aplikasi dari teori-teori psikolinguistik dalam kehidupan sehari-hari pada orang dewasa ataupun pada anak-anak.










B. TINJAUAN SEJARAH PSIKOLINGUISTIK

Seperti telah diketahui, Wundt adalah Bapak Psikologi Eksperimen yang pertama kali membangun Laboratorium di Leeipzig, Jerman pada abad ke-19. Disamping itu, Wundt telah memperkenalkan apa yang pada waktu itu disebut Psikologi bahasa (psychologie Der Sprache) yang materinya tidak jauh berbeda dengan apa yang dibahas dalam Psikolinguistik dewasa ini. Istilah Psikolinguistik merupakan istilah lain dari Psikologi bahasa yang muncul setelah perang Dunia kedua.
Pada tahun 1990 Wundt menulis buku tentang Psikolinguistik yang berjudul “Die Sprache”, terdiri dari dua jilid. Die Sprache ini merupakan bagian dari satu set buku karangan Wundt yang berjudul “Volker Psychologie” ( psikologi bahasa ), yang membahas tentang kebudayaan, struktur sosial, bahasa, moral dan lain-lain dari pelbagai bangsa yang berbeda di dunia ini. Isinya semacam antropologi terhadap kebanyakan para Psikolog yang tidak menyadari atau mengetahuinya. Dalam bukunya itu, Wundt dengan keras menggabungkan dua aliran yang sangat kuat pada abad ke-19, yaitu aliran idealisme atau rasionalisme dengan aliran empirisme

1. Aliran Idealisme
            Salah seorang tokoh aliran idealisme yang terkenal adalah Humbold. Ia sangat menaruh perhatian pada buku “Volker Psychologie” terutama mengenai aspek antropologi dan linguistiknya, dan mencoba membuat suatu teori tentang bahasa dan aspek-aspeknya.

2. Aliran Empirisme
            Karya dibidang linguistik yang bersifat empiris yang pertama adalah dari Jacob Grimm, seorang linguis yang bekerja di Jerman pada permulaan abad ke-19. ia mempunyai pandangan yang empiristik dan tertarik pada segi fonologi.

W. Wundt
Mengenai inner language form, wundt membedakan secara jelas dua aspek sebagai berikut:
a. Aspek Linguistik (morfologi dan sintaksis)
b. Aspek dasar (aspek yang mendaari aspek linguistik)

Ferdinand De Soussure
           Ferdinand de soussure adalah tokoh yang paling penting dalam linguistik. Dia adalah seorang pengajar pada Universitas Leipzig. Seorang linguistik yang memperkenalkan gagasan-gagasan yang masih dianggap penting dewasa ini.

C. TRADISI EROPA
Menjelang Perang Dunia II, kira-kira tahun 1938, psikologuistik menghilang dari percaturan ilmu di Eropa.

D. ALIRAN BEHAVIORISM
1. Linguistik di Amerika
            Pada tahun 1933 Bloomfield mengarang buku baru yang berjudul ‘Language’. Meskipun setuju dengan pentingnya penggunaan teori S-R (Stimulus response) untuk menjelaskan tingkah laku manusia, namun ia tidak mempergunakan dasar-dasar prikologi bahasa menurut teori S-R dalam membahas bahasa.


2. Psikologi di Amerika
            Watson, Wiss dan C. Norris (murid Pierce) adalah tokoh behaviorist di Amerika yang besar pengaruhnya terhadap C. Hull, seorang pencetus teori mediasi (Mediational Theory). C. Osgood, seorang murid Hull telah meluaskan teori mediasi dari Hull dalam usahanya untuk menjelaskan gejala bahasa.

E. ARTIFICIAL INTELLIGENCE
            Artificial intelligence adalah bagian dari ilmu komputer yang telah berkembang sejak tahun 50-an.

F. COMPETENCE DAN PERFORMANCE
Noom – Chomsky telah membedakan antara competence dengan performance. Competence adalah kapasitas kreatif dari pemakaian bahasa. Sedangkan yang dimaksud dengan performance adalah penggunaan bahasa secara aktual yang meliputi mendengarkan, berbicara, berpikir dan menulis.

G. STRUKTUR, FUNGSI DAN PROSES
1. Struktur Bahasa
            Struktur bahasa adalah suatu sistem dimana unsur-unsur bahasa diatur dan dihubungkan satu dengan yang lain (Bloom dan Lahey, 1978, hlm. 132).

2. Fungsi Bahasa
            Fungsi bahasa adalah alasan-alasan mengenai seorang berbicara. Ada dua macam fungsi bahasa yaitu:
a. Fungsi bahasa yang bersifat intrapersonal (mathetik)
b. Fungsi bahasa yang bersifat interpersonal (progmatik)

3. Proses Bahasa
            Proses bahasa adalah suatu deskripsi tentang alat-alat, materi dan prosedur yang ada dalam mental kita yang dipergunakan manusia untuk memproduksi dan mengerti bahasa.

H. STRUKTUR BAHASA
            Struktur bahasa menyangkut beberapa bidang yaitu : bidang semantik, bidang sintaksis, bidang morfologi dan bidang fonologi.
1. Bidang Semantik
Semantik adalah studi mengenai “arti” suatu perkataan atau kalimat.

2. Bidang Sintaksis
            Sintaksis adalah bagian dari tata basa yang mempelajari dasar-dasar dan proses – proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa (Gorys keraf, 1982).

3. Bidang Morfologi
            Morfologi ialah ilmu yang membicarakan morfem serta bagaimana morfem itu dibentuk menjadi kata (Yus Badudu, 1976).

4. Bidang Fonologi
            Fonologi merupakan salah satu bagian dari tata bahasa, yaitu bagian yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya (G. keraf)


BAB II
PSIKOLINGUISTIK UMUM

            Pada Bab II ini, kita akan membahas fungsi bahasa dan proses berbahasa pada orang dewasa, yang merupakan bagian dari psikolinguistik Umum karena menyangkut persepsi orang dewasa tentang bahasa dan bagaimana ia memproduksi bahasa.

A. FUNGSI BAHASA
            Untuk menjelaskan hal itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu tiga aspek penting dari fungsi bahasa, yakni:
• Speech Act
• Propositional Content
• Thematic Structure

1. Speech Act
            Pada waktu seseorang berbicara, ia sebenarnya memperlihatkan suatu speech act tertentu yang dapat berupa action meminta, meyakinkan, berjanji, menyuruh dan lain-lainnya.

2. Propositional Content
            Thematic Structure adalah penilaian tentang keadaan mental (mental state) pendengar pada saat seseorang berbicara.

3. Thematic Structure
            Kalimat itu mempunyai fungsi memperinci ide-ide yang menjadi kerangka speech act. Ide-ide ini sering pula disebut sebagai ideational content dari sebuah kalimat atau dalam ilmu psikolinguistik disebut propositional content).


B. PROSES BERBAHASA
1. Mengenal bunyi-bunyi (the speech recognizer)
            Sistem ini berfungsi untuk mengenal bunyi-bunyi yang diucapkan manusia sebagai suatu bahasa tertentu.
2. Analisis Kalimat atau parser
            Fungsi analisis kalimat adalah untuk menganalisis struktur kalimat. Dalam hal ini ia harus mendeteksi bagaimana haisl roses kerjasama antara tiga sistem dalam CPU (Central processing Unit).
3. Sistem Konseptual (The Conceptual System)
            Sistem konseptual merupakan inti dari penggunaan bahasa oleh manusia, oleh karena proses berpikir yang mendasari tingkah laku manusia seperti problem solving (pemecahan masalah), membuat keputusan (decision making), penggunaan bahasa dan lain-lain terdapat dalam sistem konseptual.








4. Generator Kalimat (The sentence Generator)
            Sesudah struktur konseptual terbentuk pada seseorang, kini tinggal bagaimana mengekspresikan nya ke dalam bahasa ucapan. Tugas ini menjadi tanggungjawab generator kalimat.
5. Artikulator
            Sistem ini berfungsi untuk mengucapkan kata-kata. Artikulatorbertugas menyampaikan susunan yang dibentuk oleh generator kalimat kepada bagian artikulais.
6. Leksikon
            Lesikon mental meliputi semua pengetahuan yang dipunyai pemakai bahasa, yang berhubungan dengan akta-kata dalam khasanah perbendaharaan kata atau dengan akta lain arti akta-kata, ciri-ciri morfologi, ciri-ciri sintaksis, cara mengucapan, cara mengeja (Kempen, 1981, hlm. 16).





































BAB III
PSIKOLINGUISTIK PERKEMBANGAN


A. PERKEMBANGAN FONOLOGI
            Bayi yang berumur 3 hingga 4 bulan mulai memproduksi bunyi-bunyian. Pada usia antara 5 dan 6 bulan ia mulai mengoceh. Pada pertengahan tahun pertama, anak-anak mulai membedakan bunyi-bunyi (Ervin Tripo, 1970) dan selanjutnya dikatakan bahwa persepsi (speech perception) kelihatannya tergantung pada interaksi anak dengan lingkungannya.

B. PERKEMBANGAN SEMANTIK
            Dalam usahanya ini, mereka mulai dengan dua asumsi mengenai fungsi dan isi dari suatu bahasa, yaitu:
(1) Bahasa dipergunakan untuk komunikasi
(2) Bahasa mempunyai arti dalam suatu konteks tertentu

C. PERKEMBANGAN SINTAKSIS
            Dalam perkembangan sintaksis bahasa Inggris, urutan kata penting karang mula-mula belum ada infleksi, sehingga si anak dalam struktur sintaksisnya bersandar pada urutan kata. Demikian juga dalam bahasa Rusia dan Jerman, sedangkan di Indonesia belum diketahui.

D. PERKEMBANGAN MORFOLOGI
            Menurut Schaerlaekens (1977), diferensiasi morfologi itu meliputi tiga hal penting yaitu:
• Pembentukan aktajamak
• Pembentukan diminutiesuffix (verkleinwood).
 jurkje (rok anak)
àContoh: jurk (rok orang dewasa)
• Perubahan kata kerja
Dalam Bahasa Indonesia, belum diketahui bagaimana perkembangan morfologi pada bahasa anak karena belum ada penelitian di bidang  tersebut.

E. PERKEMBANGAN KONSEPTUAL
            Secara garis besar, hal-hal yang perlu dan harus dipelajari seorang anak sebelum ia dapat mengucapkan kalimat adalah:
• Kata benda (nama benda) dan Konsistensi obyek
• Kejadian-kejadian (events)
• Skema aksi (action schemes)
• Kausalitas
 Setelah seorang anak mengerti keempat hal terebut diatas berarti ia siap untuk mengaktifkan atau mengekspresikan skema aksi yang ada dalam alam pikirannya disampaikan melalui kalimat-kalimat.
1. Konseptualisasi
2. Psikologi kognitif
3. Psikologi kognitif






F. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK            
            Sejarah studi bahasa anak dibagi ke dalam dua periode, yaitu periode sebelum tahun 1960 dan sesudah 1960.
1. Studi Sebelum Tahun 1960
2. Studi Sesudah Tahun 1960

G. TUTURAN ANAK (CHILD SPEECH)
1.      Stage I
Tuturan anak pada stage I terdiri dari kalimat telegram dan pivot open grammar.
a. Kalimat telegram
(telegraphic speech)
            Bown dan fraser (1963) mengungkapkan bahwa tuturan anak apa stage I, awalnya sangat mirip dengan kalimat telegram. Artinya, anak memformulasikan pesan (message) dengan car yang sependek mungkin seperti halnya orang dewasa mengirim telegram.

b. Privot Open Grammar
Mengenai Pivot pen Grammar telah dibahas pada bab II

       2.    Stage II
            Tuturan anak pada stage II ini tertutup meliputi penguasaan penggunaan morfem imbuhan.

H. MEKANISME PEROLEHAN BAHASA PADA ANAK – ANAK

            Dalam sejarah perkembangannya teori-teori psikolinguistik tentang perolehan bahasa pada anak-anak mulai meninggalkan kedua pendekatan tersebut secara murni dan menemukan suatu model baru dalam pendekatan yang lebih mempersoalkan bahasa dari segi prosesnya tanpa mengabaikan segi-segi positifnya.

1. Pandangan empiris yang murni / ekstrim

            Inti pandangan empiris yang murni ini ialah language is a function of reinforcement. Orang tua mengajar anaknya berbicara dengan memberikan reinforcement (penguatan) terhadap tingkah laku verbal.

2. Pandangan aliran rasionalis murni / ekstrim
            Dari sudut pandang aliran nasionalis, bahasa adalah suatu kemampuan yang khas dipunyai manusia. Selain itu, Chomsky dan kawan-kawan menganggap perolehan bahasa tidak diperoleh dengan cara induksi seperti diterangkan oleh aliran empiris, melainkan karena manusia secara biologis memang sudah diprogramkan (prepgrammed) untuk memperoleh bahasa.

3. Model Proses Atau Analisis Strategi (Strategy Analysis)
            Pandangan yang terbaru mengenai perbedaan bahasa pada anak-anak ialah pandangan yang disebut model proses (process models) atau analisis strategi (strategy analysis).




I. PENGUKURAN KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK-ANAK
            Ada beberapa macam tes untuk mengukur kemampuan berbahasa pada anak-anak. Pengukuran kemampuan berbahasa dan perkembangannya paling sedikit mempunyai tiga fungsi, yaitu:
·         Untuk diagnosa anak-anak yang diduga mempunyai kesukaran pada suatu atau beberapa aspek perkembangan bahasanya.
·         Untuk evaluasi kemajuan anak selama terapi dalam kesukaran atau persoalan bahasanya.
·         Untuk riset keamjuan anak yang normal dengan tujuan eksplorasi terhadap efek dari pelbagai faktor lingkungan. Misalnya kedwibhasaan, jumlah waktu yang digunakan anak untuk nonton televisi, kedudukan anak dalam rumah tangga, urutan kelahiran, dan terhadap perkembangan bahasanya (Dale, 1976).

Berikut adalah alat ukur atau tes yang dapat digunakan untuk mendekati kemampuan berbahasa seorang anak:
a)      Pengukuran perkembangan bahasa
b)      Tes membedakan fonem
c)      Tes cerita
d)     Tes mengukur kemampuan komunikasi
e)      Tes perbendaharaan kata



























BAB IV
PSIKOLINGUISTIK TERAPAN


            Psikolinguistik terapan adalah aplikasi teori-teori linguistik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bab ini akan dibahas beberapa bidang terapan yang dianggap penting, yaitu yang menyangkut hal membaca, patologi bahasa, kedwibahasaan dan pengajaran bahasa asing.

A.  HAL MEMBACA
            Membaca adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita dewasa ini. Usaha disamping membaca dianggap penting untuk komunikasi, juga karena membaca berkaitan erat dengan menulis. Dalam hal membaca, dibedakan antara initial reading dengan advance reading. Initial reading adalah membaca untuk mengerti bunyi ( reading for sound ). Adapun advance reading adalah membaca untuk mengerti arti ( reading for meaning)

1. Membaca Untuk Mengerti Bunyi
            Dalam initial reading, seorang anak harus belajar mengenal fenom kemudian menggabungkan (blending) beberapa fonem menjadi suatu suku kata atau kata

2. Membaca Untuk Mengerti Arti (Advanced Reading)
            Apabila dalam suatu bahasa, penguapannya mendekati pengerjaannya (apabila bahasa itu mempunyai pengucapan fonem tetap), maka sistem alphabetic dapat digunakan, tetapi bilamana ada perbedaan antara pengucapan dan pengerjaan, maka sistem logographic sesuai untuk dipakai.

B.     PATOLOGI BAHASA
            Ada tiga masalah utama dalam Patologi bahasa yang akan dibahas disini, yaitu dyslexia, aphasia, dan bahasa orang tunarungu. Ketiga masalah ini merupakan penyimpangan atau kelainan dalam tingkaj laku berbahasa.

1. Dyslexia
 Dyslexia adalah kesukaran dalam membaca yang tidak didasari oleh gangguan neurologis, tidak ada bukti tentang adanya kerusakan otak atau gangguan organis lainnya.

2. Aphasia
 Untuk pertama kalinya, aphasia dikenal sebagai penyakit yang terpisah pada tahun 1961, oleh seorang ahli saraf (neurology) Perancis bernama Broca. Pada saat itu dia mendiskripsikan suatu penyakit yang kemudian disebut sebagai motor aphasia. Aphasia bentuk lain adalah sensory Aphasia yang ditemukan oleh Wernicke, seorang berkebangsaan Jerman. Aphasia menyangkut persoalan dalam mendengarkan dan berbicara. Kedua persoalan ini biasanya dibarengi dengan beberapa persoalan membaca dan menulis (alexia dan Agraphji.)
           
            Lauria seorang berkebangsaan Rusia mempelajari Aphasia dan menemukan enam bentuk dari Aphasia, yaitu:
a)      Sensory aphasia
b)      Amnestic aphasia
c)      Semantik aphasia
d)     Afferent Motor Aphasia
e)      Efferent Motor Aphasia
f)       Dynamic Aphasia

5. Bahasa Orang Tunarugu
Kesukaran pada anak-anak atau orang-orang tunarungu ialah mereka tidak dapat mendengar suara yang mereka produksi untuk mendapatkan umpan balik. Seorang anak tunarungu telinganya mengalami kesukaran, maka telah dikembangkan suatu alat bagi anak tunarungu yang memungkinkan mereka mendapatkan umpan balik(feedback) terhadap suara-suara yang dikeluarkannya, yaitu melalui cara sebagai berikut:
·         Vibrasi
·         Kinsethetic feed back
·         Merubah bunyi ke dalam gambar

C.      KEDWIBAHASAAN
Anak-anak yang memperoleh kemampuan dalam kedua bahasa tersebut secara simultan sejak lahir, disebutnya sebagai bahasa anak-anak yang bilingual karena ia mendengar satu bahasa dari orang tertentu misalnya dari ibu dan bahasa lain dari ayahnya atau neneknya. Tetapi bagaimana halnya dengan anak yang memperoleh bahasa kedua pada usia 2 tahun, sedangkan pada usia tersebut sudah barang tentu anak tersebut belum menguasai betul bahasa pertamanya. Dalam hal demikian, Laughin memberi batas pada usia 3 tahun. Apabila anak memperoleh bahasa kedua sebelum 3 tahun, dianggapnya anak itu memperoleh bahasa secara simultan. Oleh karena itu dianggap sebagai bilingual.

1. Beberapa Cara Mengukur Kedwibahasaan

            W.E. Lambert telah mengemabngkan suatu alat untuk mengukur kedwibahasaan dengan mencatat hal-hal berikut.
• Waktu reaksi seseorang terhadap dua bahasa.
• Kecepatan reaksi dapat diukur pula dari bagaimana seseorang melaksanakan perintah perintah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda.
·      Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan
·  Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan.

2. Hubungan Antara Kewibahasaan Dengan Intelingensi
            Studi dari lambert telah mengontrol faktor sosial ekonomi, mendapatkan hasil yang sebaliknya dimana anak-anak dwibahasa dalam hal IQ sedikit lebih tinggi dari pada anak ke bahasa.

3. Hubungan antara kedwibahasaan dengan fungsi kognitif
            Dikatakan bahwa anak dwibahasa memperoleh ‘flexibility set’ yang berguna dalam tugas-tugas berpikir yang berbeda, dimana dituntut adanya originalitas dan daya temu (inventiveness), yang berarti kedwibahasan mempunyai efek positif terhadap fungsi kognitif.








D. PENGAJARAN BAHASA ASING

            Dipertanyakan apakah ada kesamaan dalam hal seseorang anak belajar bahasa pertamanya (bahasa ibu) dengan orang dewasa atau anak belajar bahasa asing. dalam kenyataannya, ternyata sukar untuk mencari pararelitas antara keduanya dan yang nampak justru lebih banyak perbedaannya dari pada kesamaannya.
Di bawah ini akan diperlihatkan beberapa perbedaan-perbedaan yang dimaksud    tersebut:
a)      Masalah waktu yang digunakan
b)      Masalah peranan guru
c)      Masalah materi dan metode pengajaran
d)     Masalah motivasi
e)      Masalah fungsi kognitif
f)       Masalah keurutan perolehan
g)      Masalah kepercayaan diri
h)      Masalah interferensi bahasa
i)        Masalah Usia

E.  METODE MENGAJAR BAHASA ASING
       Ada tiga metode umum yang telah dipergunakan dalam pengajaran bahasa, yaitu
a. Metoda Grammar Translation
Metode ini merupakan metode yang tertua yang menekankan pada pelajaran tatabahasa.

b. Metoda audiolingual
metode ini merupakan metode baru dan masih banyak dipakai. Metode ini dipengaruhi teori behaviorisme yang menekankan latihan keterampilan bahasa.

c. Metoda code learning
metode ini mengajarkan aturan-aturan linguistik sederhana yang kemudian diterapkan sampai akhirnya siswa akan belajar dengan otomatis melalui buku-buku, dan sehingga menguasai aspek berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, dan menerjemahkan.










DAFTAR PUSTAKA
Samsunuwiyati Marat. 1983. Psikolinguistik. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.
Mansoer Pateda. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Ende Flores: Nusa Indah.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar